Sejarah Perkembangan Filsafat Ilmu

A. Perkembangan Awal Pemikiran Filsafat Ilmu

Pada awalnya pandangan pemikiran manusia sangat dipengaruhi oleh mitosentris yaitu bahwa semua kejadian di alam raya ini dipengaruhi oleh para dewa. Thales (624-546 SM), sebagai bapak filsafat disusul kemudian oleh Phytagoras (572-497 SM), Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-332 SM) merupakan filosof-filosof pertama yang mengubah pola piker manusia yaitu dari pola pikir mitosentris ke pola pikir logosentris. Aristoteles bahkan telah memperkenalkan “Allah” sebagai penggerak pertama atau aktus murni sebagai sumber dari segala sumber penggerak filsafat sebagai proses berpikir yang sistematis dan radikal mempunyai objek material (segala yang ada baik yang tampak maupun yang tidak tampak) dan objek formal. Sementara ilmu juga memiliki dua objek yaitu material (alam nyata) dan formal (metode untuk memahami objek material). Filsafat menyediakan tempat berpijak bagi kegiatan ilmu pengetahuan. Setelah itu ilmu berkembang sesuai dengan spesialisasinya masing-masing, sehingga ilmulah yang secara praktis membelah gunung dan merambah hutan dan filsafat kembali ke laut lepas untuk berspekulasi dan melakukan eksplorasi lebih jauh. Pada perkembangan berikutnya filsafat bukan hanya dipandang debagai induk dan sumber ilmu, tetapi sudah menjadi bagian dari ilmu itu sendiri dan bersifat sektoral, misalnya filsafat agama, filsafat hokum dan filsafat ilmu. Filsafat ilmu merupakan kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu, sehingga filsafat perlu menjawab persoalan ontologism, epistemologis dan aksiologis. Sejarah perkembangan filsafat dibagi dalam tiga periode. Periode pertama merupakan masa awal dari kaum filosof alam yang dimulai dari Thales hingga Parmanides. Dalam periode pertama, para filosof dengan segala pendapat dan pandanganyang berbeda-beda, dianggap tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan tentang manusia dan kebenaran. Periode berikutnya yang dikenal dengan sebutan periode kaum “sofis” yang dimotori oleh Protagoras yang menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran ynag merupakan cikal bakal humanisme. Kaum sofis memberikan ruang gerak pada ilmu unutk berkembang, berspekulasi dan merelatifkan teori ilmu. Mereka beranggapan bahwa ilmu itu terbtas tetapi proses mencari ilmu tak terbatas. Periode berikutnya adalah filososf yang menentang pandanagn kaumsofis tentang relativisme kaum sofis. Periode ini dimotori oleh Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates terkenal dengan semboyannya “kenalilah dirimu sendiri”, Plato murid Sokrates mampu “mendamaikan” pandangan Hiraklitos dan Parmanides serta Aristoteles murid Plato yang lebih dikenal dengan analisis silogisme-nya.

B. Perkembangan Pemikiran Filsafat Ilmu Zaman Hellenisasi

Periode sejak menigalnya Aristoteles sampai menjelang lahirnya agama Kristen oleh Druysen disebut periode Hellenistik atau Hellenisme adalah istilah yang menunjukkan kebudayaan gabungan antara budaya Yunani dan Asia Kecil, Siria, Mesopotamia, dan Mesir Kuno. Dalam masa ini filsafat ditandai antara lain dengan perhatian pada hal yang lebih aplikatif, serta kurang memperhatikan metafisika, dengan semangat yang elektik (mesintesiskan pendapat yang berlawanan) dan bercorak mistik. Menurut A. Epping, cirri manusia (pemikir filsafat) abad pertengahan adalah

1. Ciri berfilsafatnya dipimpin oleh Gereja

2. Berfilsafat di dalam lingkungan ajaran Aristoteles

3. Berfilsafat dengan pertolongan Agustinus.

Pada masa ini filsafat cenderung kehilangan otonominya, pemikiran filsafat abad pertengahan bercirikan Teosentris (kebenaran berpusat pada wahyu Tuhan), hal ini tidak mengherankan mengingat pada masa ini pengaruh Agama Kristen sangat besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pemikiran. Filsafat abad pertengahan sering juga disebut Scholastik, postmodernisme pada dasarnya merupakan pandangan yang tidak/ kurang mempercayai narasi-narasi universal serta kesamaan dalam segala hal, faham ini lebih memberikan tempat pada narasi-narasi kecil dan lokal yang berarti lebih menekankan pada keberagamaan dalam memaknai kehidupan.

C. Perkembangan Pemikiran Filsafat Ilmu Zaman Renaissance

Renaissance merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Zaman Renaissance dipelopori oleh salah satunya yairu Nicholas Copernicus (1473-1543). Copernicus terkenal dengan teori Helliosentris-nya yaitu di mana matahari adalah pusat jagad raya, bukan bumi seperti yang dikemukakan oleh Ptolomeus yang diperkuat Gereja. Revolusi pemikiran ini memicu pertentangan antar pemikir dan Gereja Katolik Roma. Akibat revolusi pemikiran ini melahirkan Francis Bacon (1561-1626) dengan knowledge is power-nya, Thyco Brahe dengan gugusan bintang Cassiopeia-nya, Johannes Keppler (1571-1630) dengan ilmu Astronomi-nya, Galileo dengan ilmu gerak-nya serta Napier dengan logaritma berbasis e-nya dan sederet nama lainnya.

D. Perkembangan Pemikiran Filsafat Ilmu Zaman Pertengahan Islam Pertengahan zaman Islam dimulai sejak peristiwa Fitnah Al-Kubra yang dimotori oleh Abdullah Ibn Umar dan Abdullah Ibn Abbas. Peristiwa Fitnah al-Kubra irni ternyata tidak hanya membawa konsekuensi-logis dari segi politis an sich-seperti selama ini-tapi ternyata juga membawa perubahan besar bagi pertumbuhan dan dan perkembangan ilmu di dunia Islam. Pasca terjadinya Fitnah al-Kubra, muncul bebagai golongan yang memiliki aliran teologis tersendiri yang pada dasarnya berkembang karena alas an-alasan polotis. Pada saat itu muncul aliran Syi’ah yang membela Ali, aliran Khawarij dan kelompok Muawiyah. Namun, di luar konflik yang muncul pada saat itu, sejarah mencatat dua orang tokoh besar yang tidak ikut terlibat dalam perdebatan teologis yang cenderung mengkafirkan satu sama lain, tetapi justru mencurahkan perhatiannya pada bidang ilmu agama. Kedua tokoh itu adalah Abdullah Ibn Umar dan Abdullah Ibn Abbas. Kedua tokoh ini sering disebut sebagi pelopor tumbuhnya institusi keulamaan dalam Islam, sekaligus pelopor kajian mendalam dan sistematis tentang agama Islam. Dari sini kemudian dapat dikatakan bahwa sejak awal Islam kajian-kajian dalam bidang teologi sudah berkembang, meskipun masih berbentuk embrio. Embrio inilah yang pada masa kemudian menemukan bentuknya yang lebih sistematis dalam kajian-kajian teologis dalam Islam. Dapat disimpulkan bahwa peranan akal dalam pergulatan pemikiran dan keilmuan dalam Islam dimulai. Tahap penting berikutnya dalam proses perkembangan dan tradisi keilmuan Islam ialah masuknya unsure-unsusr dari luar ke dalam Islam, Khususnya budaya perso-Semitik dan budaya Hellenisme. Budaya Hellenisme dan juga filsafat Yunani mempunyai pengaruh basar terhadap tradisi keilmuan Islam, sehingga selanjutnya pengaruh itu pun terus mewarnaia perkembangan ilmu pada masa-masa beriktunya.

E. Perkembangan Pemikiran Filsafat Ilmu Zaman Modern

Perkembangan zaman modern dipelopori oleh I. Newton (1643-1727) dengan teori gravitasi-nya yang selanjutnya berkembang ilmu kimia yang dipelopori oleh Josseph Black (1728-1799) dengan CO2-nya sampai pada masa penemuanelektron oleh J.J Thompson yang menggugurkan teori atom sebagai bahan terkecil yang tidak dapat berubah dan bersifat kekal. Dapat ditarik kesimpulan sebuah sejarah ringkas ilmu-ilmu yang lahir saat itu. Perkembangan ilmu pada abad ke-18 telah melahirkan ilmu seperti taksonomi, ekonomi, kalkus, dan statistika. Di abad ke-19 lahir semisal pharmakologi, geofisika, geomorphologi, palaentologi, arkeologi, dan sosiologi. Abad ke-20 manganal ilmu teori informasi, logika matematika, mekanika kuantum, fisika nuklir, radiobiologi, oceanografi, antropologi budaya, psikologi dan sebagainya.

Daftar Pustaka

Bachtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, Jakarta: PT Raja GrafindoPersada, 2007

www.pengetahuan-subyek.blogspot.com

www.uharsaputra.files.wordpress.com

Khitan Wanita

BAB I PENDAHULUAN

Sebagian masyarakat, terutama mereka yang beragama Islam, juga di beberapa negara, biasanya menyunat/mengkhitan anak perempuannya. Ternyata akhir-akhir ini khitan untuk anak perempuan itu mengalami pro dan kontra diperlukan atau tidak? Malah aktivis perempuan dan medis melihatnya sebagai suatu tindakan yang bisa merusak hak reproduksi perempuan. Bahkan tuntutan penghapusan praktek khitan pada oerempuan itu berasal dari lembaga-lembaga dunia terutama PBB, WHO dan LSM-LSM yang bergerak dalam pemberdayaan perempuan..Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas bagimana hukum khitan pada perempuan menurut ajaran Islam, apa pendapat para ulama dan bagaimana dampak yang diterima oleh perempuan itu sendiri.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Khitan Perempuan

Kata khitan berasal dari bahasa arab yang secara umum berarti memotong. dalam fiqh, secara umum khitan adalah memotong sebagian anggota tubuh tertentu. pada prakteknya, khitan lelaki berbeda dengan khitan perempuan. Menurut al Mawardi, khitan lelaki adalah pemotongan kulit yang menutup hasyafah (kepala penis), sedangkan khitan wanita adalah mengiris kulit yang paling atas pada alat kelamin yang berbentuk biji-bijian, atau bagaikan jengger ayam jago. Dan yang menjadi kewajiban adalah mengiris kulit bagian atas alat tersebut dengan tidak melepaskan potongannya. Dalam tulisan fiqh kontemporer Syekh Sayyid Sabiq berkata : “Khitan untuk lelaki adalah pemotongan kulit yang menutupi hasayafah agar tidak menyimpan kotoran, mudah dibersihkan ketika kencing dan dapat merasakan kenikmatan jika tidak berkurang. sedangkan untuk perempuan adalah dengan memotong bagian teratas dari faraj-nya, khitan ini adalah tradisi kuno (sunnah qodimah).

B. Hukum Khitan Dan Tata Cara Pelaksanaannya

Pelaksanaan sunat perempuan sangat bervariasi, mulai dari tenaga medis (baik perawat, bidan, maupun dokter), dukun bayi, maupun dukun/tukang sunat, dengan menggunakan alat-alat tradisional (pisau, sembilu, bambu, jarum, kaca, kuku) hingga alat moderen (gunting, scapula). Sunat perempuan di Indonesia sendiri dilakukan pada anak usia 0-18 tahun, tergantung dari budaya setempat. Umumnya sunat perempuan dilakukan pada bayi setelah dilahirkan. Di jawa dan Madura, sunat perempuan 70% dilaksanakan pada usia kurang dari satu tahun dan sebagian pada usia 7-9 tahun, menandai masa menjelang dewasa. Pelaksanaannya juga sangat bervariasi, mulai dari tenaga medis, dukun bayi, istri kyai (nyai), maupun tukang sunat, dengan menggunakan alat-alat tradisional ataupun alat modern. Praktik sunat perempuan di Indonesia sering diminimalkan hanya pada tindakan simbolik, tanpa pemotongan yang sesungguhnya pada alat kelamin. Walaupun ada juga dukun bayi di Madura yang berpendapat bahwa walaupun sedikit, tetap harus ada darah dari klitoris atau labia minora. Di Yogyakarta, sunat perempuan yang di kenal dengan istilah tetesan sebagian dilakukan oleh dukun bayi dengan cara menempelkan/menggosokkan kunyit klitoris, kemudian kunyit tersebut dipotong sedikit ujungnya, dan potongan tersebut dibuang ke laut atau dipendam di tanah. Kadang juga hanya dengan mengusap atau membersihkan bagian klitoris dan sekitarnya. Secara umum, di Jawa dan Madura memotong sedikit ujung klitoris adalah cara yang paling banyak dilakukan, selain cara simbolik. Di Sulawesi Selatan, sunat perempuan pada etnis Bugis, di Soppeng (disebut katte), dilakukan dengan cara memotong sedikit klitoris. Sang Dukun (sanro) sebelumnya juga memotong jengger ayam. Kedua potongan tersebut kemudian dimasukkan ke suatu wadah yang berisi parutan kelapa, gula, kayu manis, biji pala, dan cengkih. Sedangkan etnis Makasar (disebut katang) melakukannya dengan cara memotong ujung kelentit menggunakan pisau. Rata-rata dilakukan pada usia 7-10 tahun, lebih identik dengan ritualisasi akil balig perempuan, dan diikuti dengan acara adat. Mengenai hukum khitan ini, para ulama dan imam mazhab berbeda pendapat. Menurut Ibnu Hajar Al-Astqalani, ada dua pendapat tentang hukum khitan.

1. Wajib baik untuk laki-laki ataupun perempuan. Pendapat ini dipelopori oleh imam Asy-syafi’i dan sebagian besar ulama mazhabnya.

2. Tidak wajib, pendapat ini dinyatakan oleh mayoritas ulama dan sebagian ulama mazhab Syafi’i. Wahbah az-Zuhaili mendeskripsikan perbedaan ulama mazhab tentang hukum khitan dalam ensiklopedi fiqhnya sebagai berikut: “Khitan bagi lelaki, mengikut mazhab Hanafi dan Maliki adalah sunnah muakkadah dan bagi perempuan adalah suatu kemuliaan yang kalau dilaksanakan disunnahkan tidak berlebihan sehingga tidak terpotong bibir vagina, agar ia tetap mudah merasakan kenikmatan jima’ (hubungan seksual). Menurut Imam Syafi’I, khitan adalah wajib bagi lelaki dan perempuan. Sedangkan Imam Ahmad berkata bahwa khitan wajib bagi lelaki dan suatu kemuliaan bagi perempuan yang biasannya dilakukan di daerah-daerah yang panas. Dalil-dalil yang digunakan: 1. Imam Syafi’I: Khitan wajib bagi laki-laki dan perempuan, adalah sebagai berikut: • surat an-nahl ayat 123     •          123. Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. • “Potonglah rambut kufur darimu dan berkhitanlah” (As-Syafii dalam kitab Al-Umm yang aslinya dari hadis Aisyah Riwayat Muslim). 2. Imam Hambali: Khitan wajib bagi laki-laki, dan memuliakan bagi perempuan, dalilnya adalah hadist Ahmad dan Baihaqi: “Khitan itu sunah buat laki-laki dan memuliakan buat wanita” (Ahmad dan Baihaqi). 3. Imam Malik dan Hanafi: Sunat Muakkadah bagi laki-laki dan perempuan, dalilnya: • hadis Dari Anas Ibn Malik R.a, bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada Ummu Athiyyah, tukang khitan perempuan di Madinah: “Sentuhlah sedikit saja dan jangan berlebihan, karena hal itu adalah bagian kenikmatan perempuan dan kecintaan suami.” • Hadist yang lain disebutkan: “Sayatlah sedikit dan jangan berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami.” (HR Abu Daud)

C. Pro dan Kontra Pelaksanaan khitan Perempuan

Banyak orang salah mengerti tentang praktek khitan perempuan dalam islam sehingga dengan cepat memvonis bahwa Khitan perempuan bisa merusak hak perempuan, dari sudut kebutuhan seksual karena akan mengurangi kenikmatan , dan juga pada sebagian perempuan bisa menimbulkan trauma psikologis yang berat. Oleh karena itu, lihatlah dua buah hadist Nabi secara detil: Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada Ummu Athiyyah, tukang khitan perempuan di Madinah: عَنِ الضَّحَّاكِ بن قَيْسٍ، قَالَ: كَانَتْ بِالْمَدِينَةِ امْرَأَةٌ تَخْفِضُ النِّسَاءَ، ُقَالُ لَهَا أُمُّ عَطِيَّةَ، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”اخْفِضِي، وَلا تُنْهِكِي، فَإِنَّهُ أَنْضَرُ لِلْوَجْهِ، وَأَحْظَى عِنْدَ الزَّوْجِ”.

Dari adh-Dhahhak bin Qais bahwa di Madinah ada seorang ahli khitan wanita yang bernama Ummu ‘Athiyyah, Rasulullah SAW bersabda kepadanya : “khifadhlah (khitanilah) dan jangan berlebihan, sebab itu lebih menceriakan wajah dan lebih menguntungkan suami”. (HR. at-Tabrani dari adh-Dhahhak). Dalam riwayat lain disebutkan: عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الْأَنْصَارِيَّةِ أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَخْتِنُ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ

Dari Ummu ‘Athiyyah r.a. diceritakan bahwa di Madinah ada seorang perempuan tukang sunat/khitan, lalu Rasulullah SAW bersabda kepada perempuan tersebut: “Jangan berlebihan, sebab yang demikian itu paling membahagiakan perempuan dan paling disukai lelaki (suaminya)”. (HR. Abu Daud dari Ummu ‘Atiyyah r.a.) Ada dua pendekatan dalam memahami hadis di atas. Pertama, dilihat dari asbab al-wurud hadist. Sebelum Islam datang, masyarakat Arab terbiasa mengkhitan perempuan dengan membuang seluruh klitoris dengan alasan agar dapat mengurangi kelebihan seksual perempuan, yang pada gilirannya dapat memagari dekadensi moral masyarakat Arab ketika itu. Sewaktu Nabi mendengar Ummu Athiyyah mengkhitan dengan cara demikian, Nabi langsung menegur agar praktik khitannya harus diubah sebab dapat menimbulkan kurangnya kenikmatan seksual perempuan. Kedua, redaksi (matan) hadist terdapat ungkapan isymii wa laa tunhikii (sentuh sedikit saja dan jangan berlebihan). Kata isymam, secara etimologis, berarti mencium bau. Dengan gaya bahasa yang tinggi, Nabi Muhammad SAW memerintahkan khitan perempuan dengan cara seperti halnya mencium bau sehingga tidak merusak klitoris. Sedangkan kata laa tunhikii merupakan lafaz larangan (al-nahy) yang bermakna pasti, artinya “pastikan jangan berlebihan”. Dengan demikian secara teks dapat dipahami, Nabi tidak pernah memerintahkan khitan dengan merusak alat reproduksi. Justru sebaliknya, khitan yang diajarkan Nabi diharapkan dapat memberi keceriaan, kenikmatan, dan kepuasan seksual bagi perempuan. Menurut Islam, hak memperoleh kepuasan seksual antara lelaki dan perempuan sama. Artinya, kepuasan dan kenikmatan seksual adalah hak sekaligus kewajiban bagi suami dan istri secara parallel. Oleh karena itu, jangan sampai karena praktik yang keliru lalu secara serta-merta tradisi indah yang bernilai ibadah dan beresensikan simbol ikatan suci dengan Allah itu diperangi begitu saja. Sebaiknya dicarikan jalan tengah, substansi khitan dipertahankan namun praktik kelirunya yang dihindari. Penawaran ini pada gilirannya menjadi tugas para ulama, dokter, dan kita semua untuk meluruskannya. Bila khitan perempuan dilakukan sebagaimana yang telah nabi syariatkan, maka banyak manfaatnya dan hikmah bagi wanita dan suaminya, diantaranya:

 Mencegah pertumbuhan klitoris yang terlalu besar.

 Mencegah sakit pada vagina karena keseringan tegaknya klitoris akibat gesekan, dan wajah perempuan selalu berkerut, seperti dinukilkan hadist: “Sentuh sedikit saja dan jangan berlebihan, karena hal itu penyeri wajah dan bagian kenikmatan suami.” (HR Abu Daud).

 Doktor. Muhammad Ali Al-Bar didalam kitabnya “al-Khitan Dar Al-Manar ” berkata: “Khitan perempuan menghilangkan nafsu dan libido perempuan yang tinggi, dengan demikian si perempuan lebih iffah dan mencegah bersarangnya kuman yang berkumpul dibawah Kulit Klitoris.”

 Praktik khitan bagi perempuan sebagai kontrol terhadap seksualitas perempuan, dengan demikian tercipta masyarakat dengan lingkungan jauh dari praktek maksiat.

 Taat akan perintah Allah dan Rasulnya

 Perempuan menjadi lebih iffah, sehingga terpelihara diri dan agamanya. Menurut Dr. Shabri al Qubbani dalam kitabnya, Hayyatuna Al jinsiyah, dampak positif dari khitan adalah:

 Khitan dapat mengurangi terjangkitnya penyakit kanker.

 Segera mengkhitan anak dapat menghindari anak dari ngompol

BAB III PENUTUP

Dari pembahasan di atas dapat disimpulakan bahwa para fuqoha berbeda pendapat dalam menentukan hokum khitan bagi perempuan dan masing-masing mempunyai dalilnya tersendiri. Pada dasarnya khitan bagi perempuan itu membawa dampak yang positif jika dilakukan dengan tata cara yang benar sesuai demngan aturan Rasulullah SAW. tidak seperti apa yang dikemukakan oleh lembaga ataupun orang-orang yang menentang praktek khitan pada perempuan.

DAFTAR PUSTAKA
KH. Husein, Muhammad, Fiqh Perempuan Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender, Lkis Yogyakarta, 2002

Mahjuddin, Mpd.I, Masailul Fiqhiyah , Jakarta: Kalam Mulia, 2008 Mukim,Imum,http://www.acehforum.or.id/khitanperempuandalamt5372.html?s=72a7c5ee1827fe2e987f3e2f290a0650&amp

Shidik, Safiuddin, Hukum Islam Tentang Berbagai Persoalan Kontemporer Jakarta:Intimedia. 2004 http://duniakeperawatan.wordpress.com/2009/04/18/sunat-perempuan-pro-kontratradisi-atau-agama/18 April 2009 – 08:51

Media Pembelajaran

Jawaban UAS Media Pembelajaran

Nur Faizah

106011000140

(PAI/UIN SYAHID)

1. Topik: Berakhlak terpuji terhadap lingkungan flora dan fauna

Pokok Materi:

Berakhlak terpuji terhadap lingkungan flora dan fauna merupakan salah satu kewajiban umat Islam untuk berperilaku baik terhadap flora dan fauna dengan cara pemeliharaan, pelestarian, dan perawatan flora dan fauna secara baik serta dapat memanfaatkan keduanya secara baik pula.

Media: audio visual gerak

Alas an pemilihan media karena pada pembahasan ini diperlukan visualisasi dan gerakan agar materi yang disampaikan dapat mencapai tujuan belajar yakni siswa dapat menerapkan perilaku terpuji terhadap flora dan fauna dalam kehidupan sehari-hari dengan penampilan audio visual gerak ini. Visualisasinya pun memerlukan warna-warna agar penyampaian pesan dapat lebih menarik. Siswa juga perlu memegang kontrol terhadap kecepatan belajarnya. Media yang digunakan tentunya harus fleksibel sehingga dapat digunakan pada pelajaran apapun dan harus disesuaikan dengan isi materi dan tujuan pembelajaran tersebut serta mudah diedit karena penggunaan media harus disesuaikan dengan kurikulum yang ada yang mana kurikulum dapat berubah sewaktu-waktu.

2. E-learning adalah bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet, maksudnya peserta didik dan pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, penugasan, latihan dan ujian serta kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet.

Aspek positif dari e-learning:

  1. siswa yang ingin sekolah di luar negeri dengan tidak tinggal di luar negeri, dapat memanfaatkan pembelajaran melalui e-learning ini dengan proses pendidikan jarak jauh tanpa adanya tatap muka antara guru dan murid.
  2. e-learning ini focus pada pembelajaran yang lebih luas yang mengungguli paradigma tradisional dalam pelatihan.
  3. bagi kalangan yang sibuk dengan pekerjaannya dan tidak dapat mengikuti proses pembelajaran secara konvensional, maka dapat digunakan model pembelajaran jarak jauh ini.
  4. pembelajaran e-lerning ini terkadang dibuat lebih menarik dengan menggunakan games yang dapat mengasah kompetensi yang siswa miliki.

Aspek negative dari e-learning:

  1. kurangnya interaksi social antara guru dan murid sehingga di antara keduanya tidak ada keterbukaan.
  2. guru tidak dapat menanamkan nilai-nilai moral secara langsung terhadap muridnya.
  3. biaya yang digunakan relative mahal.

Penerapan e-learning di Indonesia masih terbilang sedikit yakni hanya beberapa sekolah yang dianggap unggul dalam pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran saja yang bisa menggunakan pembelajaran e-learning dan tentunya dengan orang-orang yang ekonominya menengah ke atas, karena di Indonesia ini masih banyak embaga pendidikan yang lebih memilih model pembelajaran konvensional atau tatap muka di mana di dalamnya terjadi interaksi social antara guru dan murid.

3. Potensi media diantaranya:

a.  Membuat konsep yang abstrak menjadi konkrit, misalnya untuk menjelaskan system peredaran darah maka dalam hal ini dapat digunakan patung anatomi organ tubuh manusia.

b.  Membawa objek yang berbahaya dan sulit untuk dibawa ke dalam kelas, seperti binatang buas, bola bumi, dan sebagainya. Ini dapat digunakan visualisasi ataugamabar-gambar.

c.  Menampilkan objek yang terlalu besar, seperti candi Borobudur, yaitu dengan menggunakan gambar atau foto dari candi Borobudur.

d. Menampilkan objek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang, seperti micro-organisme yakni dengan menggunakan mikroskop.

e. Mengamati gerakan yang terlalu cepat, misalnya dengan slow motion.

f. Memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkungannya.

g. Memungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi bagi pengalaman belajar.

h. Membangkitkan motivasi belajar siswa.

i. Memberi kesan perhatian individual untuk seluruh anggota kelompok belajar.

j. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan yakni dapat digunakan pemutaran ulang seperti melalui vcd.

k. Menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak, mengatasi batasan waktu dan ruang.

l. Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.

PERANAN MEDIA PEMBELAJARAN DALAM PENINGKATAN MUTU DI SMA

PERANAN MEDIA PEMBELAJARAN

DALAM PENINGKATAN MUTU DI SMA

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendidikan adalah salah satu elemen terpenting dalam kehidupan masyarakat. Tanpa pendidikan seseorang akan merasa menjadi manusia yang tertinggal, karena pada masa sekarang ini yang menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang salah satunya adalah pendidikan. Orang yang berpendidikan tinggi akan dengan mudah mencapai kedudukan yang tinggi pula, tetapi orang yang latar belakang pendidikannya rendah jangankan memperoleh perguruan tinggi, sekedar memperoleh pekerjaan saja mereka akan kesulitan.

Namun kalau kita perhatikan akhir-akhir ini banyak sekali peserta didik atau siswa yang malas atau kurang semangat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas, mereka cenderung lebih suka bermain di luar kelas. Salah satu penyebab mereka malas untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas adalah karena suasana pembelajaran yang sangat menjenuhkan mereka merasa bosan di kelas karena dari dahulu hingga sekarang cara pembelajaran yang dilakukan tidak pernah berubah yaitu hanya berkisar pada metode ceramah dan penugasan. Di sinilah seorang guru dituntut untuk bisa berpikir kreatif dan inovatif sehingga membawa suasana kelas menjadi lebih menyenangkan dan tentunya tidak membosankan.

Dalam menggunakan metode-metode yang baru, guru juga bisa menggunakan alat bantu yang mungkin tidak hanya membuat peserta didik menjadi betah di kelas tetapi menjadikan mereka lebih kritis, kreatif  dan tentunya menjadikan mereka bisa lebih berkembang pemikirannya.

Salah satu alat bantu yang bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar adalah media. Media adalah alat yang berupa benda yang digunakan untuk menyampaikan pesan dalam hal ini tentunya adalah materi pelajaran. Media itu sendiri bisa berupa media elektronik maupun media selain elektronik.

Penggunaan media pengajaran dapat membantu pencapaian keberhasilan belajar. Ditegaskan oleh Danim (1995:1) bahwa hasil penelitian telah banyak membuktikan efektivitas penggunaan alat bantu atau media dalam proses belajar-mengajar di kelas, terutama dalam hal peningkatan prestasi siswa. Terbatasnya media yang dipergunakan dalam kelas diduga merupakan salah satu penyebab lemahnya mutu belajar siswa.

Dengan demikian penggunaan media dalam pengajaran di kelas merupakan sebuah kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Hal ini dapat dipahami mengimgat proses belajar yang dialami siswa tertumpu pada berbagai kegiatan menambah ilmu dan wawasan untuk bekal hidup di masa sekarang dan masa akan dating. Salah satu upaya yang harus ditempuh adalah bagaimana menciptakan situasi belajar yang memungkinkan terjadnya proses pengalaman belajar pada diri siswa dengan menggerakkan segala sumber belajar dan cara belajar yang efektif dan efisien. Dalam hal ini, media pengajaran merupakan salah satu pendukung yang efektif dalam membantu terjadinya proses belajar mengajar.

Pada proses pembelajaran, media pengajaran merupakan wadah dan penyalur pesan dari sumber pesan, dalam hal ini guru, kepada penerima pesan, dalam hal ini siswa. Miarso (dalam Rahardjo, 1986:48) memberikan batasan media pengajaran sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perhatian dan kemauan siswa sehingga mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.

Media memiliki nilai-nilai praktis berupa kemampuan untuk;

  1. Membuat konsep yang abstrak menjadi konkret, misalnya untuk menjelaskan system peredaran darah. Dalam hal ini di SMA seperti mata pelajaran Biologi dapat digunakan sebuah patung organ dalam tubuh manusia.
  2. Membawa objek yang berbahaya dan sulit untuk dibawa ke dalam kelas, seperti binatang buas, bola bumi, dan sebagainya.
  3. Menampilkan objek yang terlalu besar, seperti candi Borobudur, hal ini dapat digunakan pada mata pelajaran sejarah di SMA dengan menggunakan visual atau gambar dari candi Borobudur dalam bentuk CD rom.
  4. Menampilkan objek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang, seperti microorganisme, yakni dengan menggunakan mikroskop.
  5. Mengamati gerakan yang terlalu cepat, misalnya dengan slow motion.
  6. Memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkungannya.
  7. Membangkitkan motivasi belajar siswa.
  8. Memungkinkan keseragaman pengematan dan persepsi bagi pengalaman belajar.
  9. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan seperti penggunaan VCD yang berisi visualisasi dari  materi ajar.
  10. Menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak, mengatasi batasan waktu dan ruang.
  11. Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.

Manfaat lain yang bisa kita dapatkan dari pembelajaran dengan menggunakan media, di antaranya adalah pertama, siswa dapat dengan mudah menerima dan mengingat pelajaran, sebagai contoh misalnya seorang anak bisa dengan mudah menceritakan kembali cerita sinetron televisi yang telah meraka lihat beberapa hari yang lalu, karena mereka menikmati dan tentunya mereka juga memahami alur cerita dalam sinetron itu. Mengapa mereka bisa dengan begitu mudah memahami cerita sinetron tersebut? Hal itu dikarenakan mereka melihat langsung kejadiannya walaupun hanya melalui layar televisi. Hal semacam ini kalau kita transformasikan dalam kegiatan pembelajaran tentunya juga bisa lebih bermanfaat. Kedua, metode pembelajaran dengan media juga akan menjadikan siswa lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga suasana kelas terasa lebih menyenangkan dan tidak membosankan karena siswa juga ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran tidak hanya sebagai pendengar saja. Manfaat ketiga adalah guru dapat bisa lebih menghemat waktu dan tenaga sehingga proses pembelajaran bisa terselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, dan tenaga guru yang dikeluarkan pun tidak terlalu terporsir, selain itu juga bisa tepat sasaran artinya siswa bisa menerima dan memahami pelajaran sesuai yang disampaikan oleh gurunya.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!