Khitan Wanita

BAB I PENDAHULUAN

Sebagian masyarakat, terutama mereka yang beragama Islam, juga di beberapa negara, biasanya menyunat/mengkhitan anak perempuannya. Ternyata akhir-akhir ini khitan untuk anak perempuan itu mengalami pro dan kontra diperlukan atau tidak? Malah aktivis perempuan dan medis melihatnya sebagai suatu tindakan yang bisa merusak hak reproduksi perempuan. Bahkan tuntutan penghapusan praktek khitan pada oerempuan itu berasal dari lembaga-lembaga dunia terutama PBB, WHO dan LSM-LSM yang bergerak dalam pemberdayaan perempuan..Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas bagimana hukum khitan pada perempuan menurut ajaran Islam, apa pendapat para ulama dan bagaimana dampak yang diterima oleh perempuan itu sendiri.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Khitan Perempuan

Kata khitan berasal dari bahasa arab yang secara umum berarti memotong. dalam fiqh, secara umum khitan adalah memotong sebagian anggota tubuh tertentu. pada prakteknya, khitan lelaki berbeda dengan khitan perempuan. Menurut al Mawardi, khitan lelaki adalah pemotongan kulit yang menutup hasyafah (kepala penis), sedangkan khitan wanita adalah mengiris kulit yang paling atas pada alat kelamin yang berbentuk biji-bijian, atau bagaikan jengger ayam jago. Dan yang menjadi kewajiban adalah mengiris kulit bagian atas alat tersebut dengan tidak melepaskan potongannya. Dalam tulisan fiqh kontemporer Syekh Sayyid Sabiq berkata : “Khitan untuk lelaki adalah pemotongan kulit yang menutupi hasayafah agar tidak menyimpan kotoran, mudah dibersihkan ketika kencing dan dapat merasakan kenikmatan jika tidak berkurang. sedangkan untuk perempuan adalah dengan memotong bagian teratas dari faraj-nya, khitan ini adalah tradisi kuno (sunnah qodimah).

B. Hukum Khitan Dan Tata Cara Pelaksanaannya

Pelaksanaan sunat perempuan sangat bervariasi, mulai dari tenaga medis (baik perawat, bidan, maupun dokter), dukun bayi, maupun dukun/tukang sunat, dengan menggunakan alat-alat tradisional (pisau, sembilu, bambu, jarum, kaca, kuku) hingga alat moderen (gunting, scapula). Sunat perempuan di Indonesia sendiri dilakukan pada anak usia 0-18 tahun, tergantung dari budaya setempat. Umumnya sunat perempuan dilakukan pada bayi setelah dilahirkan. Di jawa dan Madura, sunat perempuan 70% dilaksanakan pada usia kurang dari satu tahun dan sebagian pada usia 7-9 tahun, menandai masa menjelang dewasa. Pelaksanaannya juga sangat bervariasi, mulai dari tenaga medis, dukun bayi, istri kyai (nyai), maupun tukang sunat, dengan menggunakan alat-alat tradisional ataupun alat modern. Praktik sunat perempuan di Indonesia sering diminimalkan hanya pada tindakan simbolik, tanpa pemotongan yang sesungguhnya pada alat kelamin. Walaupun ada juga dukun bayi di Madura yang berpendapat bahwa walaupun sedikit, tetap harus ada darah dari klitoris atau labia minora. Di Yogyakarta, sunat perempuan yang di kenal dengan istilah tetesan sebagian dilakukan oleh dukun bayi dengan cara menempelkan/menggosokkan kunyit klitoris, kemudian kunyit tersebut dipotong sedikit ujungnya, dan potongan tersebut dibuang ke laut atau dipendam di tanah. Kadang juga hanya dengan mengusap atau membersihkan bagian klitoris dan sekitarnya. Secara umum, di Jawa dan Madura memotong sedikit ujung klitoris adalah cara yang paling banyak dilakukan, selain cara simbolik. Di Sulawesi Selatan, sunat perempuan pada etnis Bugis, di Soppeng (disebut katte), dilakukan dengan cara memotong sedikit klitoris. Sang Dukun (sanro) sebelumnya juga memotong jengger ayam. Kedua potongan tersebut kemudian dimasukkan ke suatu wadah yang berisi parutan kelapa, gula, kayu manis, biji pala, dan cengkih. Sedangkan etnis Makasar (disebut katang) melakukannya dengan cara memotong ujung kelentit menggunakan pisau. Rata-rata dilakukan pada usia 7-10 tahun, lebih identik dengan ritualisasi akil balig perempuan, dan diikuti dengan acara adat. Mengenai hukum khitan ini, para ulama dan imam mazhab berbeda pendapat. Menurut Ibnu Hajar Al-Astqalani, ada dua pendapat tentang hukum khitan.

1. Wajib baik untuk laki-laki ataupun perempuan. Pendapat ini dipelopori oleh imam Asy-syafi’i dan sebagian besar ulama mazhabnya.

2. Tidak wajib, pendapat ini dinyatakan oleh mayoritas ulama dan sebagian ulama mazhab Syafi’i. Wahbah az-Zuhaili mendeskripsikan perbedaan ulama mazhab tentang hukum khitan dalam ensiklopedi fiqhnya sebagai berikut: “Khitan bagi lelaki, mengikut mazhab Hanafi dan Maliki adalah sunnah muakkadah dan bagi perempuan adalah suatu kemuliaan yang kalau dilaksanakan disunnahkan tidak berlebihan sehingga tidak terpotong bibir vagina, agar ia tetap mudah merasakan kenikmatan jima’ (hubungan seksual). Menurut Imam Syafi’I, khitan adalah wajib bagi lelaki dan perempuan. Sedangkan Imam Ahmad berkata bahwa khitan wajib bagi lelaki dan suatu kemuliaan bagi perempuan yang biasannya dilakukan di daerah-daerah yang panas. Dalil-dalil yang digunakan: 1. Imam Syafi’I: Khitan wajib bagi laki-laki dan perempuan, adalah sebagai berikut: • surat an-nahl ayat 123     •          123. Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. • “Potonglah rambut kufur darimu dan berkhitanlah” (As-Syafii dalam kitab Al-Umm yang aslinya dari hadis Aisyah Riwayat Muslim). 2. Imam Hambali: Khitan wajib bagi laki-laki, dan memuliakan bagi perempuan, dalilnya adalah hadist Ahmad dan Baihaqi: “Khitan itu sunah buat laki-laki dan memuliakan buat wanita” (Ahmad dan Baihaqi). 3. Imam Malik dan Hanafi: Sunat Muakkadah bagi laki-laki dan perempuan, dalilnya: • hadis Dari Anas Ibn Malik R.a, bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada Ummu Athiyyah, tukang khitan perempuan di Madinah: “Sentuhlah sedikit saja dan jangan berlebihan, karena hal itu adalah bagian kenikmatan perempuan dan kecintaan suami.” • Hadist yang lain disebutkan: “Sayatlah sedikit dan jangan berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami.” (HR Abu Daud)

C. Pro dan Kontra Pelaksanaan khitan Perempuan

Banyak orang salah mengerti tentang praktek khitan perempuan dalam islam sehingga dengan cepat memvonis bahwa Khitan perempuan bisa merusak hak perempuan, dari sudut kebutuhan seksual karena akan mengurangi kenikmatan , dan juga pada sebagian perempuan bisa menimbulkan trauma psikologis yang berat. Oleh karena itu, lihatlah dua buah hadist Nabi secara detil: Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada Ummu Athiyyah, tukang khitan perempuan di Madinah: عَنِ الضَّحَّاكِ بن قَيْسٍ، قَالَ: كَانَتْ بِالْمَدِينَةِ امْرَأَةٌ تَخْفِضُ النِّسَاءَ، ُقَالُ لَهَا أُمُّ عَطِيَّةَ، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”اخْفِضِي، وَلا تُنْهِكِي، فَإِنَّهُ أَنْضَرُ لِلْوَجْهِ، وَأَحْظَى عِنْدَ الزَّوْجِ”.

Dari adh-Dhahhak bin Qais bahwa di Madinah ada seorang ahli khitan wanita yang bernama Ummu ‘Athiyyah, Rasulullah SAW bersabda kepadanya : “khifadhlah (khitanilah) dan jangan berlebihan, sebab itu lebih menceriakan wajah dan lebih menguntungkan suami”. (HR. at-Tabrani dari adh-Dhahhak). Dalam riwayat lain disebutkan: عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الْأَنْصَارِيَّةِ أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَخْتِنُ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ

Dari Ummu ‘Athiyyah r.a. diceritakan bahwa di Madinah ada seorang perempuan tukang sunat/khitan, lalu Rasulullah SAW bersabda kepada perempuan tersebut: “Jangan berlebihan, sebab yang demikian itu paling membahagiakan perempuan dan paling disukai lelaki (suaminya)”. (HR. Abu Daud dari Ummu ‘Atiyyah r.a.) Ada dua pendekatan dalam memahami hadis di atas. Pertama, dilihat dari asbab al-wurud hadist. Sebelum Islam datang, masyarakat Arab terbiasa mengkhitan perempuan dengan membuang seluruh klitoris dengan alasan agar dapat mengurangi kelebihan seksual perempuan, yang pada gilirannya dapat memagari dekadensi moral masyarakat Arab ketika itu. Sewaktu Nabi mendengar Ummu Athiyyah mengkhitan dengan cara demikian, Nabi langsung menegur agar praktik khitannya harus diubah sebab dapat menimbulkan kurangnya kenikmatan seksual perempuan. Kedua, redaksi (matan) hadist terdapat ungkapan isymii wa laa tunhikii (sentuh sedikit saja dan jangan berlebihan). Kata isymam, secara etimologis, berarti mencium bau. Dengan gaya bahasa yang tinggi, Nabi Muhammad SAW memerintahkan khitan perempuan dengan cara seperti halnya mencium bau sehingga tidak merusak klitoris. Sedangkan kata laa tunhikii merupakan lafaz larangan (al-nahy) yang bermakna pasti, artinya “pastikan jangan berlebihan”. Dengan demikian secara teks dapat dipahami, Nabi tidak pernah memerintahkan khitan dengan merusak alat reproduksi. Justru sebaliknya, khitan yang diajarkan Nabi diharapkan dapat memberi keceriaan, kenikmatan, dan kepuasan seksual bagi perempuan. Menurut Islam, hak memperoleh kepuasan seksual antara lelaki dan perempuan sama. Artinya, kepuasan dan kenikmatan seksual adalah hak sekaligus kewajiban bagi suami dan istri secara parallel. Oleh karena itu, jangan sampai karena praktik yang keliru lalu secara serta-merta tradisi indah yang bernilai ibadah dan beresensikan simbol ikatan suci dengan Allah itu diperangi begitu saja. Sebaiknya dicarikan jalan tengah, substansi khitan dipertahankan namun praktik kelirunya yang dihindari. Penawaran ini pada gilirannya menjadi tugas para ulama, dokter, dan kita semua untuk meluruskannya. Bila khitan perempuan dilakukan sebagaimana yang telah nabi syariatkan, maka banyak manfaatnya dan hikmah bagi wanita dan suaminya, diantaranya:

 Mencegah pertumbuhan klitoris yang terlalu besar.

 Mencegah sakit pada vagina karena keseringan tegaknya klitoris akibat gesekan, dan wajah perempuan selalu berkerut, seperti dinukilkan hadist: “Sentuh sedikit saja dan jangan berlebihan, karena hal itu penyeri wajah dan bagian kenikmatan suami.” (HR Abu Daud).

 Doktor. Muhammad Ali Al-Bar didalam kitabnya “al-Khitan Dar Al-Manar ” berkata: “Khitan perempuan menghilangkan nafsu dan libido perempuan yang tinggi, dengan demikian si perempuan lebih iffah dan mencegah bersarangnya kuman yang berkumpul dibawah Kulit Klitoris.”

 Praktik khitan bagi perempuan sebagai kontrol terhadap seksualitas perempuan, dengan demikian tercipta masyarakat dengan lingkungan jauh dari praktek maksiat.

 Taat akan perintah Allah dan Rasulnya

 Perempuan menjadi lebih iffah, sehingga terpelihara diri dan agamanya. Menurut Dr. Shabri al Qubbani dalam kitabnya, Hayyatuna Al jinsiyah, dampak positif dari khitan adalah:

 Khitan dapat mengurangi terjangkitnya penyakit kanker.

 Segera mengkhitan anak dapat menghindari anak dari ngompol

BAB III PENUTUP

Dari pembahasan di atas dapat disimpulakan bahwa para fuqoha berbeda pendapat dalam menentukan hokum khitan bagi perempuan dan masing-masing mempunyai dalilnya tersendiri. Pada dasarnya khitan bagi perempuan itu membawa dampak yang positif jika dilakukan dengan tata cara yang benar sesuai demngan aturan Rasulullah SAW. tidak seperti apa yang dikemukakan oleh lembaga ataupun orang-orang yang menentang praktek khitan pada perempuan.

DAFTAR PUSTAKA
KH. Husein, Muhammad, Fiqh Perempuan Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender, Lkis Yogyakarta, 2002

Mahjuddin, Mpd.I, Masailul Fiqhiyah , Jakarta: Kalam Mulia, 2008 Mukim,Imum,http://www.acehforum.or.id/khitanperempuandalamt5372.html?s=72a7c5ee1827fe2e987f3e2f290a0650&amp

Shidik, Safiuddin, Hukum Islam Tentang Berbagai Persoalan Kontemporer Jakarta:Intimedia. 2004 http://duniakeperawatan.wordpress.com/2009/04/18/sunat-perempuan-pro-kontratradisi-atau-agama/18 April 2009 – 08:51

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: